PMII Kota BandungBANDUNG Massa yang tergabung dalam aksi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bandung, mendatangi Kantor Bulog Regional Kota Bandung dan Jawa Barat. Mereka mendesak pemerintah, untuk segera mengatasi tingginya harga sembako dan menegakkan kedaulatan pangan di Indonesia, Rabu (11/03).

Penyampaian aspirasi dimulai dengan berkeliling di area kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hal ini bertujuan mengajak mahasiswa secara umum untuk bergabung menyampaikan aspirasi.

Hingga menjelang siang, massa aksi bergerak menuju Gudang Bulog Regional Kota Bandung di Jl. Gedebage menggunakan mobil truk.

Satu jam lamanya, massa aksi ini menyuarakan tuntutannya di Gudang Bulog Regional Kota Bandung. Kemudian melangkah menuju kantor Perum Bulog Divisi Regional Jawa Barat, di Jl. Soekarno-Hatta No. 711A Kota Bandung.

Ahmad Riyadi, Ketua PC PMII Kota Bandung mengatakan, Aksi damai tersebut digelar sebagai respon atas peliknya permasalahan pangan masyarakat.

“Sebetulnya yang jadi persoalan adalah kebutuhan beras. Pemerintah seharusnya mendukung petani lokal (tradisional) untuk mengembangkan potensi lahan pertanian yang dimiliki. Hal tersebut sebagai upaya dalam mengatasi kebijakan impor beras yangi dilakukan oleh pemerintah,” tegas Riyadi.

Menurutnya, proses tersebut harus berbanding lurus dengan usaha Pemerintah melalui sosialisasi atau penyuluhan yang baik kepada para petani. Misalnya penyulusan terkait sumber pupuk atau penggunaan pestisida yang efektif.

“Artinya, bahwa ini merupakan konsekuensi dari pemerintah untuk berbicara soal pengelolaan dan kesejahteraan pertanian. Kalau semua ini bisa dilakukan oleh pemerintah, saya rasa kita tidak butuh lho yang namanya beras impor. Karena Indonesia mempunyai potensi pertanian yang sangat bagus,” jelasnya.

Massa aksi ini juga mendesak pemerintah agar mampu mengintervensi stabilitas harga pasar. Riyadi mengingatkan pemerintah, untuk tidak terjebak model kapitalisme yang akhirnya mengeksploitasi hak-hak rakyat. Selanjutnya, pemerintah juga diminta untuk memperhatikan pendidikan dan kelayakan hidup di kalangan para petani.

“Lalu bagaimana cara pemerintah mampu memberikan arahan kepada masyarakat (petani) untuk memberikan pupuk-pupuk yang baik. Begitu juga jangan sampai harga pupuk melambung tinggi, yang pada akhirnya harga beras ditentukan oleh harga pupuk,” tegas Mahasiswa Pascasarjana Universitas Langlangbuana ini.(Muhammad Zidni Nafi’/Poy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *