Tidak sedikit Organisasi Kepemudaan (OKP) dan Non Government Organisation (NGO) berbasis perempuan di Indonesia, yang aktif secara organisatoris. Seiring semakin berkembangnya organisasi-organisasi berbasis perempuan tersebut, Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Kota Serang menilai, tingginya jumlah tersebut justru tidak diimbangi dengan peranan nyata organisasi.

Dalam rilis yang diterima oleh pmii.or.id, Kopri PC PMII Kota Serang mengakui bahwa keadaan peranan dan partisipasi perempuan di Kota Serang dalam pemerintahan, sudah cukup baik. Namun berbeda jika dibandingkan dengan aksi gerakan sosial dan pengabdian dalam partisipasi pembangunan.

Di Kota Serang misalnya, terdapat banyak OKP ataupun NGO yang berbasis pada peranan perempuan, namun kenyataannya seperti mayat hidup (ada dan bernafas namun pasif, tidak ada peranan nyata). Kopri Kota serang menilai, salah satu faktor yang melatarbelakangi minimnya partisipasi OKP dan NGO berbasis perempuan tersebut adalah minimnya dukungan (supporting movement) dari Pemerintah.

Dukungan Pemerintah Kota Serang tersebut hanya dianggap sebagai angin segar. Terasa namun tak memberikan kontribusi nyata untuk mewujudkan gerakan produktif bagi OKP atau NGO yang berbasis pada peranan perempuan.

Seperti yang telah tertera dalam rancangan undang-undang KKG (Keadilan dan Kesataraan Gender), artinya ada angin segar bagi partisipasi dan peranan perempuan, bahwa peranan perempuan tidak lagi terbelenggu oleh trilogy cultural dapur, sumur dan kasur.

Mengenang track record salah satu tokoh reovolusi peranan perempuan di Indonesia yaitu kartini, dalam perjalananya yang merubah paradigma publik pada saat itu tentang peranan perempuan yang begitu pasif dalam pembangunan menjadi lebih aktif.

Namun pada kenyataanya saat ini, isu-isu dan diskriminasi seputar peranan perempuan masih sering terdengar, dan sering kali dibenturkan dengan pemahaman keagamaan yang keliru. Salah satunya persoalan kepemimpinan perempuan dalam pemerintahan.

Pemahaman yang keliru tersebut sepertinya masih dikembangbiakan oleh beberapa golongan dan individu. Kopri Kota Serang menilai perlu adanya pelurusan, apalagi bila dikaitkan dengan pemahaman keagamaan atau syariat Islam.

Sedikit flash back pada zaman Rasulullah SAW dan khulafaur rasyidin, bahwa pimpinan negara saat itu adalah istri baginda Nabi yaitu Siti Aisyah. Dan tidak ada hadist ataupun firman terkait permasalahan tersebut. Justru permasalahan saat sebelum Rasullah SAW ada tentang peranan wanita hanyalah sebagai budak dan selalu ditindas.(Kopri PC PMII Kota Serang/Poy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *