Realitas kondisi umat muslim di dunia hari ini sangat memprihatinkan. Timur Tengah yang idealnya menjadi contoh bagi umat muslim belahan dunia lain justru terlilit konflik berkepanajangan. Terlepas itu bukan persoalan agama, namun karena Islam lahir dan tumbuh menjadi mayoritas di sana, dampak  keterlibatan umat muslim dalam perseteruan menimbulkan kerugian besar bagi umat.
Disisi lain, problem fanatisme kesukuan masyarakat arab belumlah selesai. Konflik antar suku menjadi problem paling sulit untuk diatasi, meski sudah lintas generasi prakarsa perdamaian pasca wafatnya Nabi. Islam yang sejatinya menjadi pemersatu justru terpetak-petak oleh banyaknya suku, hingga akhirnya dijadikan alat untuk memecah kesatuan dan persatuan umat.
Jauh dari tanah kelahirannya, Islam di Indonesia justru terlihat lebih ayem. Islam-Indonesia mampu menyatukan nusantara yang terdiri dari banyak suku, etnis dan bahasa. Walaupun dalam sejarah perjalannya juga pernah pecah konflik, namun relatif bisa diminimalisir dan diatasi dengan baik.
Kenapa?
Mayoritas penduduk muslim Indonesia, menganut paham Ahlus sunah wal jama’ah (Aswaja). Sebuah aliran yang mengedepankan sikap ramah, intelektualitas dan selalu bijak dalam setiap gerak serta tindakan. Tidak mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda apalagi mengkafirkan.
KH As’ad Said Ali, Wakil Ketua Umum PBNU, ketika menjadi narasumber pada pelatihan kader penggerak dakwah kampus di Pon-Pes Al-Manar Azhari, Depok beberapa waktu lalu mengatakan “Penganut Ahlus sunah wal jama’ah tidak perlu sibuk menyalahkan pihak lain apalagi mengkafirkan. Kita cukup yakin bahwa ajaran ini merupakan yang terbaik dan wajib mempertahankannya. Karena hanya Allah-lah yang lebih tau siapa diantara hambanya yang terbaik,”
Ia berharap, kedepan setelah lulus dari kampus, kader penggerak dakwah ini harus menjadi corong dakwah Islam Ahlus sunah wal jama’ah di tengah masyarakat Indonesia bahkan dunia. Karena masyarakat muslim dunia, menyadari sadar bahwa mereka lebih merasa nyaman dan tenang dengan paham Aswaja. Terbukti, Aswaja tetap menjadi mayoritas walaupun di goyang dari segala arah.  Bahkan gaya dan karakter ajarannya relatif lebih bisa menyelesaikan persoalan keumatan dan kebangsaan.
(Ditulis oleh Fauzan Amin, Panitia Pelatihan Kader Penggerak Dakwah Kampus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *