Ilhamudin, Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Kelompok Profesional PB PMII
Ilhamudin, Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Kelompok Profesional PB PMII

*Jakarta*, Nawa cita yg didengungkan presiden Jokowi salah satunya adalah terkait dengan swasembada pangan, sehingga salah satu program yang dijalankan pemerintah adalah bagaimana agar produksi bahan sembako bisa meningkat dan tidak ketergantungan dengan negara lain (impor). Namun pada realitanya sampai saat ini Indonesia masih mengimpor bahan2 sembako seperti kebijakan kementrian perdagangan untuk mengimpor beras ahir Januari ini.
Dalam teori perdagangan internasional (merkantilisme, keunggulan absolut dan keunggulan komparatif maupun HO /hecher ohlin) suatu negara berkembang biasanya membutuhkan impor barang tertentu bahkan impor barang pokok (beras), namun perlu dievaluasi berkaitan dengan ketergantungan impor bahan sembako di Indonesia.
Faktor2 yang mempengaruhi impor beras adalah :

  1. Pendapatan perkapita

2 .Peningkatan produksi beras
3. Peningkatan kurs dollar
4. Stabilitas harga
Yang selalu menjadi perhatian pemerintah saat ini adalah stabilitas harga beras dengan impor (ini memang efektif namun hanya jangka pendek) pemerintah tidak mempertimbangkan faktor yg kedua (peningkatan produksi beras) dan anehnya setiap impor pasti mendekati musim panen raya Februari – Maret, apakan ini kesengajaan ataukah ini hanya kebetulan saja?Pemerintah harus lebih menfokuskan pada 2 sektor agar produksi beras di Indonesia bisa meningkat,
*Pertama* berkaitan dengan distribusi beras Indonesia, selama ini yg menjadi petani mengeluh adalah rendahnya nilai jual di petani namun tingginya harga jual hasil produksi petani. Sehingga dalam titik kejenuhan petani enggan lagi untuk memproduksi barang yg sama.
*Kedua* adalah tidak adanya jaminan dari pemerintah berkaitan dengan panen raya, walaupun rumus permintaan <>penawaran permintaan ><penawaran namun berbeda ketika bahan sembako yg menjadi sasaranya, peran aktif pemerintah harus mampu menstabilkan harga agar petani tidak jenuh untuk memproduksi barang yg sama.
Beras merupakan komoditas strategis secara sosio budaya-ekonomi dan politik sehingga kebijakan beras tidak hanya dengan pendekatan kebijakan ekonomi saja.
Impor memang menjadi salah satu alternatif untuk menstabilkan harga namun perlu kebijakan yg lebih strategis agar Indonesia tidak ketergantungan beras.
Jika produksi padi dipengaruhi oleh luas lahan, impor beras, harga pupuk urea, nilai tukar riil dan harga beras di pasar domestik. Maka luas lahan, harga pupuk urea, dan nilai tukar rill menjadi PR terbesar pemerintah saat ini.
Penulis adalah Ilhamudin , Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Kelompok Profesional PB PMII
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *