Kepada Para Sahabat Pergerakan
 
Pada akhirnya, para demonstran itu akan mati
Tak ada yang tersisa kecuali puisi
Juga anyir darah yang amisnya
Masih tercium sepanjang peristiwa
 
Di jalanan, tempat kita berdiri
Menantang wajah matahari
Sambil melepaskan suara angin
Ke balik gedung kota yang dingin
 
Kita berdiri
Atas nama pilar bangsa yang retak
Kehilangan setiap mimpi
Yang diruntuhkan oleh kejamnya sebuah negeri
 
Lalu, untuk siapa bendera berkibar di udara
Bila akhirnya menjadi lusuh dan kehilangan tanda?
 
Kita terlantar dalam mimpi
Terkapar di atas tanah sendiri
Sedangkan secangkir kopi yang mengepul sepanjang sunyi
Hanya tinggal ampas dan melesap ke tengah malam yang nisbi
 
Maka, kita tak perlu murung, Sahabat…
Pancangkan kuat-kuat kaki di bumi
Meneriakkan suara langit
Ke balik wajah-wajah bertopeng yang menghimpit
 
Kemudian, kita berlari menjumpai sebuah jalan
Sambil membawa sisa-sisa luka
Bagi anak-anak yang kehilangan puisi
Lebih-lebih bagi ibu yang menunggu di dada matahari
 
Sampai akhirnya, kita akan sama-sama gugur
Di atas sepetak tanah yang subur
Sebagai sebuah nama
Yang kekal di bawah tiang bendera
 
Sumenep, 29 Maret 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *