Mahbub Djunaidi

Di tahun 1966 orang nyaris bersepakat tak perlu lagilah itu tipe kepemimpinan solidarity-maker, yang melompat dari podium ke podium, bagaikan awan tergantung di atas lautan massa. Sudah bukan zaman. Dia mungkin obyektif benar untuk masanya, tapi tidak untuk seluruh masa. Yang diperlukan tipe “administrator”, seperti Kennedy atau si tua Adenauer itu. Maka muncullah tipe kepemimpinan edisi baru, model mutakhir, produk cemerlang sanjungan demonstran.

Sekarang, yang tadinya baru itu sudah dianggap tidak baru lagi. Perlu yang lebih baru. Segala berkembang secara dialektis. Administrator itu baik, tapi urusan manusia sudah terlanjur ruwet, mustahil bisa dipahami hanya dengan memperlakukan mereka bagaikan bundel-bundel dan angka-angka. Teknokrat, si dewa-dewa modern, itu baik, tetapi membangun pabrik tidak sesulit melakukan komunikasi sosial. Heterogin menuntut rasa cermat. Maklum, bukan sekedar isi kepala yang berbeda, mmelainkan juga warna rambut dan panjang-pendeknya yang tumbuk di kulit kepala.

Sekali waktu gertakan itu memadai, tapi lama kelamaan bikin orang terheran-heran, apa tidak ada yang lebih penting daripada gertak-menggertak. Apalagi jika gertak itu sudah menjadi rutin, orang akan mengalami kesulitan menjadi takut. Dan orang pun menjadi lelah lantaran was-was atau curiga yang tak berujung pangkal, yang pada akhirnya menganggapnya beban batin yang sama sekali tidak perlu. Apa manfaat memandang dunia lewat kacamata hitam, padahal sang surya selalu siap dengan anugerahnya yang percuma? Apa bagusnya melihat keadaan orang lebih mudah diajak merasa takut daripada diajak hormat? Demi selamat dan demi asap dapur, setiap orang siap menobatkan diri jadi penyanjung dan si manis mulut, tersenyum-senyum tanpa sebab musabab yang jelas, jadi hipokrit dan kompromis, menyembunyikan sikap pribadi jauh di pantai, khawatir diketahui orang kecuali dirinya sendiri. Ibarat terkait balon-balon gas, pemimpin melambung jauh ke atas sana, sukar disentuh tangan maupun hati, dan sukar pula diturunkan. Publik yang jelata di bawah, atau mendongak sambil mulut ternganga, atau menundukkan kepala lunglai ke bumi, persis di ujung jari-jemari kakinya, mencari jalannya sendiri dengan sisa-sisa harapan, andaikata memang ada bersisa.

Kadangkala ada anjuran ambil jalan ringkas, bengis namun terus-terang: pilihlah kepemimpinan tipe nasihat Niccolo Machiavelli kepada pangeran Lorenzo yang perkasa. Pangeran itu kalau mau awet berkuasa harus pandai-pandai meniru binatang singa dan binatang rubah. Jangan tiru singa saja, karena singa tak mampu mengendus perangkap. Jangan tiru rubah saja, karena rubah mudah diterkam serigala. Pangeran harus bisa jadi rubah supaya bisa menjauhi perangkap, dan jadi singa supaya ditakuti serigala. Pendek kata, perlu pemimpin itu memperlihatkan sikapnya yang penuh kasih sayang, setia, jujur maupun, tetapi begitu keadaan menghendaki, persetan semuanya itu. Tetapi, berhubung zaman sekarang para pangeran itu sudah terguncang-guncang mahligainya oleh rupa-rupa revolusi, dan kekuasaannya pun sudah tipis benar, ajaran Machiavelli itu kehilangan pendengar. (Pangeran Phillip kakanda Ratu Ellizabeth dan Pangeran Bernhard kakanda Ratu Yuliana kedua-duanya menjabat Ketua Penyayang Binatang, tingkat nasional dan internasional, semacam fungsi yang ganjil tapi cukup menarik surat kabar. Mereka bukan saja meniru tabiat binatang melainkan sudah sampai ke batas memandang binatang bagaikan kaum kerabat).

Lewat dia punya rentetan Parkinson’s Law yang sarat kelakar tapi memikat, C. Northcote Parkinson mencoba-coba pula mengajukan syarat kepemimpinan agak tahan lama, sambil lebih dulu mengkonstatir “krisis kekuasaan” sebetulnya bermula dari “Revolusi Kaum Wanita”, tatkala rok berganti celana, mereka memasuki perguruan tinggi dan membanjiri kotak suara pemilu, menyebabkan pria berhenti jadi gentleman dan wanita terangkat ke atas sebagai lady, anak-anak tak tahu siapa penguasa rumah, sekolah tak mampu menggantikan otoritas sang bapak yang menurun, menjadilah mereka tak kenal disiplin, yang jadi sebab kantor pemerintah dan bisnis penuh sesak oleh berandalan yang tak tahu apa itu aturan.

Pemimpin perlu imaginasi, kata Parkinson, lantas menyusul pengetahuan, punya kepastian bertindak, kesanggupan, keras hati campur sedikit bengis, dan daya tarik. Pimpinan yang dungu, entah setan mana yang mengangkat dia di sana, gemar mencari kesalahan, menghardik dan bergunjing, perutnya sering mulas dan terlibat cekcok dengan istri. Keras hati campur sedikit bengis itu perlu, untuk menghukum yang salah dan ngacau. Malapetaka yang menimpa dunia sekarang lantaran kita suka mengulur-ngulur kenikmatan memberi instruksi, mengharap peningkatan kualifikasi teknis yang tak berkesudahan sampai orang-orang ini sudah lewat setengah umur, dan 20 tahun mendatang segala-galanya jadi berantakan.

Yang sudah pasti, suara perihal perlu “kepemimpinan baru” itu datangnya dari mulut pemimpin-pemimpin itu. Dan yang belum pasti, apakah bermakna pergantian fisik, atau sekadar reparasi akhlak, lebih beramah-tamah dengan penduduk, lebih sabar dengarkan keluhan, mengganti roman garang menjadi roman jernih, setidak-tidaknya roman netral bagaikan umumnya pemeluk Konfusius yang tulen. Bukan berarti penggantian “pimpinan nasional”, kata penjelasan susulan. Tapi, apa saja yang termasuk “pimpinan nasional” itu?

Pada akhirnya, yang perlu perombakan sistem itu sendiri. Dari dulu two-way-traffic jadi mainan mulut. Kalau tak percaya, tanya Dr. Roeslan Abdulgani. Soalnya, cegatan lalu lintas terlalu banyak. Demokratisasi segenap sektor satu-satunya gerbang menuju komunikasi terbuka. Demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, sekaligus. Pembangunan ekonomi bisa jalan tanpa demokrasi, mengapa tidak. Tapi, itu untuk siapa pembangunan itu, ini soal lain. Betul-betul soal lain.

Tempo, 8 Desember 1973

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *