Oleh: Abdurrahman Bin Auf*
Fakta sejarah telah mencatat bahwa peran pemuda sebagai agent of change telah terbukti sebagai salah satu pelopor perubahan penting dalam tatanan masyarakat, bangsa bahkan menjadi sebuah kekuatan utama dalam gerakan revolusi. Gerakan revolusi ini pada akhirnya melahirkan tatanan kehidupan yang baru dalam masyarakat. Realita ini terjadi pada gerakan revolusi Perancis tahun 1968 yang telah melahirkan tatanan politik baru dan gagasan besar seperti feminisme, gerakan anti-nuklir, dan ekologisme ( Robert Gildea, ”French Student Revolt”, dalam Jack A Goldstone (ed), The Encylopedia of Political Revolution, Chicago & London: Fitzroy Dearborn Publisher, 1998 hal.185-186 ). Sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bagian dari sumbangsih peran strategis pemuda. Kontribusi pemuda tersebut berlangsung sejak era kebangkitan nasional, perjuangan lahirnya kemerdekaan, pengawalan transisi rezim orde lama (orla) ke orde baru (orba), penggulingan tirani orde baru menuju orde reformasi sampai akhirnya sumpah pemuda sebagai spirit building dalam proses penyatuan konsep berbangsa, berbahasa dan bertanah air.
Realita peran pemuda di atas harus diakui karena memiliki semangat nasionalisme tinggi dalam memperjuangan tatanan demokrasi bangsa yang berorientasi pada gerakan pro-kerakyatan. Kondisi pemuda Indonesia pada saat itu merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Optimistik gerakan pemuda lahir dari idealisme yang sangat kuat. Selain itu, pemuda memiliki mental kepribadian yang kuat, bersemangat, etos kerja yang tinggi, ulet, kritis, disiplin, inovatif dan bekerja keras dalam menjadikan kehidupan bangsanya menjadi lebih baik. Gerakan pemuda saat itu merupakan gerakan yang terorganisir- teratur melalui organisasi, salah satunya adalah Organisasi Kepemudaan (OKP). Beberapa Organisasi Kepemudaan/Kemahasiswaan yang masih eksis adalah Gerakan Pemuda Ansor (GPM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan remaja Muhammadiyah (IRM) dan beberapa elemen kepemudaan lainnya. Kehadiran OKP pada zaman kemerdekaan merupakan kekuatan starategis yang luar biasa. Orientasi gerakan yang diterapkan beraviliasi pada intelektual-praksis menuju konsep kebangsaan dan good governence.
Namun, semangat dan arah gerakan OKP-OKP akan keluar dari gerakan idelisme jika pemuda yang ada di dalamnya baik struktural maupun non-struktural telah dirasuki oleh pola pikir praktis. Mereka bukan lagi berkonsep jangka panjang akan tetapi, memiliki konsep ide, gagasan hanya bersifat jangka pendek. Jelas, hal ini hanya akan mengotori semangat nasionalisme pemuda. Padahal, generasi muda adalah generasi penerus bangsa dalam menciptakan country building yang lebih baik, mapan dan berpihak pada rakyat.
Potensi pola pikir praktis berpeluang besar dimasuki oleh pemuda OKP-OKP, mengingat Bangsa Indonesia akan menghadapi dua agenda besar dalam pesta demokrasi yaitu Pemilihan Umum Calon Legislatif (Caleg) dan Pemilu Presiden. Dua agenda demokrasi Indonesia ini tepatnya pada tanggal 9 April dan 9 Juni 2009 yaitu Pemilu Caleg dan Pemilu Presiden-Cawapres. Dua ruang demokrasi ini sedang menganga dan siap mencengkram ritme ruh gerakan para pemuda OKP. Pemuda akan mudah terjebak jika tidak memilki semangat seperti pemuda zaman kemerdekaan dan sebaliknya akan menjadi ”manusia setengah dewa” jika refleksi semangat pemuda zaman dulu tertanam kuat dalam pola pikir pemuda zaman sekarang. Hal ini bisa saja terjadi karena pemuda zaman sekarang telah mengalami degradasi spirit kebangsaan.
Pola pikir praktis juga disebabkan adanya arus besar globalisasi yang berimbas pada peralihan ruh gerakan pemuda dari agent of change menjadi agent of hedonis. Mereka tidak lagi berpikir tentang bagaimana membangun bangsa dan menciptakan demokrasi pro-kerakyatan melainkan berjiwa konsumerisme dunia hedonis. Inilah virus terbesar yang sedang mejangkiti pemuda. Di media massa (Surat Kabar, Majalah, Radio Televisi) selalu menyajikan berita skandal video mesum, korban obat-obat terlarang, tawuran, dan subjeknya tak lain kebanyakan dari golongan pemuda. Sangat ironis bukan!
Pola pikir praktis hanya memiliki format gerakan jangka pendek (short time) dan kepentingan sesaat . Oleh karena itu, pemuda harus secepatnya menata diri agar semangat nasionalisme tetap menjadi painting of great movement. Apa yang diungkapkan Muhaimin Iskandar menjadi sebuah loncatan strategis, saatnya pemuda (dalam OKP baik struktural maupun non-struktural) menghilangkan tradisi ”politik kerumunan” yaitu politik yang memilki arti gerak politik berbasis isu, ide, momentum dan kepentingan hanya berorientasi jangka pendek (baca: melampaui demokrasi).
Mengubah Pola Pikir Pemuda
Virus pola pikir praktis yang sangat mudah dan cepat merasuki pemuda menjadi musuh utama terhadap perubahan ruh gerakan OKP. Oleh karena itu, pemuda yang memilki intelektual, berpikir kritis dan berada dalam perasaan manusia ideal (masih bersih dari politik kekuasaan) saatnya mengubah pola pikir. Pemuda harus tetap dalam rel utama sebagai agent of change untuk melahirkan gagasan baru dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang baru pula.
Pengungkapan ide, gagasan yang bersifat jangka pendek dan kepentingan sesaat harus dihilangkan. Berpikirlah ”organisasional” yaitu memilki gerak politik strategis yang bersandar pada perjuangan kepentingan bersama, bersifat jangka panjang dan terlembaga dalam sebuah organsisasi (baca: Melampaui Demokrasi). Kepentingan jangka panjang dimaknai sebagai kepentingan konstituen organisasi, kader, pengurus dan kepentingan bangsa pada umumnya yang menjadi format perjuangan organisasi. Kaitannya dengan pesta demokrasi, pola pikir sangat dibutuhkan dalam menciptakan demokrasi ideal bagi masa depan bangsa Indonesia. Format perjuangan jangka panjang itu dapat terangakai dalam style of movement (baca: merangkai strategis organisasi) sebagai kepentingan bangsa Indonesia seutuhnya.
Pertama, Gerakan Sosial. Terciptanya masa depan demokrasi Indonesia yang ideal merupakan perjuangan bersama terlebih peran pemuda OKP-OKP. Kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia selalu menjadi sorotan utama dalam perjalanan pemerintahan bangsa. Tingginya angka kemiskinan dan banyaknya pengangguran menjadi indikasi gagalnya pemerintah dalam peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketidaksetaraan kehidupan masayarakat antara kaum ekonomi kelas menengah ke bawah dan menengah ke atas harus menjadi perjuangan gerakan sosial. Pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah, petani dan pengusaha kecil, akan menciptakan kemandirian dalam basis masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ini akan lebih bermanfaat bagi pola gerakan OKP sebagai bentuk perjuangan pemuda terhadap masyarakat kecil.
Kedua, Gerakan Kebudayaan. Mengingat sejarah tumbangnya orde baru ke orde reformasi, maka tugas terpenting dalam proses lahirnya era reformasi itu adalah melanjutkan agenda reformasi. Tugas ini sebagai bentuk tanggung jawab pemuda. Kaitannya dengan Pemilu 2009, pemuda dituntut untuk berani bertanggung jawab dalam mengawal peralihan demokrasi. Peralihan ini menjadi great responsiblity yang merupakan akar budaya gerakan pemuda. Budaya ini akan melahirakan image building terhadap pemuda pada perwujudan pembebas, pluralitas dan pencipta dinamisasi kehidupan berbangsa.
Ketiga, Gerakan Politik Strategis. Pola gerakan ini merupakan kombinasi kedua pola gerakan di atas. Politik strategis memiliki makna yang sangat jauh dengan dengan politik praktis. Politik strategis berorientasi pada kebutuhan jangka panjang sedangkan politik praktis hanyalah berwujud kebutuhan sesaat. Pemuda menjadi adalah icon yang mengubah kehidupan bangsa dalam mencetuskan ide strategis dan advokasi yang berakhir pada perjuangan rakyat kecil. Jiwa sensitivitas terhadap fenomena bangsa yang tidak berpihak pada rakyat harus menjadi ruh utama dalam mengawal kebijakan pemerintah, baik lokal maupun nasional.
Euforia Pemilu 2009 adalah pesta seluruh rakyat Indonesia. Disinilah peran pemuda yang terlembaga dalam OKP-OKP menunjukkan semangat nasionalisme dan melahirkan isu, ide dan kepentingan bersama yang akan mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Namun, ruh perjuangan itu akan menjadi kabur dan ambigu jika OKP-OKP tidak mampu mengubah pola praktis menuju pola pikir strategis.(*)
* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris Universitas Jember. Pernah aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Jember. Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jember.