Halaman 1 dari 2
Konflik politik yang sedang memanas di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) besutan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tidak berpengaruh pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Walaupun organisasi mahasiswa ini banyak menyumbangkan kadernya ke partai berlambang bola dunia dan bintang sembilan ini, organisasi ini tetap berdiri independen.
PMII tidak mau terseret pada arus konflik politik itu. Setidaknya begitulah obsesi Ketua Umum Pengurus Besar PMII baru hasil Kongres XVI PMII di Batam 17-21 Maret 2008, Muhammad Rodli Kaelani. Odie, demikian Muhammad Rodli Kaelani disapa, adalah sosok flamboyan dan santun dalam pergaulan di lingkungan PB PMII. Walaupun demikian, Odi punya pemikiran besar memperkuat gerakan lokal PMII untuk membentengi daerah masing-masing. Ia ingin membangun pergerakan Nasional PMII berbasis pada sinergi gerak ‘sentrum pergerakan’ dengan menjadikan kawasan sebagai medan gerak bagi Indonesia dan tata dunia yang setara, damai dan berkeadilan.
Indikasi kuat akan pentingnya merumuskan sentrum gerak pada tiap kawasan adalah globalisasi yang menghancurkan batas-batas fisik negera-bangsa dan menciptakan ’kantong-kantong kawasan’ yang menjadi instrumen apropriasi nilai lebih dari pinggiran. ”Jika gelombang neoliberalisme dikonseptualisasikan sebagai the new imperialism-colonialism, maka itu tak lagi melalui negara tetapi langsung ke daerah-daerah,” katanya saat ditemui OPINI INDONESIA di Graha Mahbub Djunaidi, Jl. Salemba Tengah No. 57 A Jakarta Pusat.
Sebagai anak muda yang lahir dari kultur NU, aktifis PMII yang mengawali karirnya sebagai Sekretaris Umum PC PMII Manado ini ingin mendesain model gerak yang menyambungkan gerak PMII dan NU. Menjadikan warisan teologi dan tradisi Islam di Indonesia sebagai model alternatif dalam meng-counter arus ekstrimisme teologi maupaun ekstrimisme pasar yang bersifat trans-nasional crime.
Sebagai aktifis organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, ia juga ingin mengkonsolidasikan segenap komponen nasional pergerakan pemuda. Ia ingin menjadikan kebangsaan dan kenusantaraan sebagai spirit pergerakan pemuda yang bertumpu pada warisan sosio-kultural dan historis Indonesia.
Mungkin karena usianya yang masih muda inilah, Muhammad Rodli Kaelani yang lahir 1 April 1978 ini begitu kuat mendorong partisipasi kaum muda dalam menciptakan iklim perubahan di negeri ini. Keterlibatan kaum muda saat ini dinilainya tidak merata. Dalam satu level keorganisasian, mereka tidak terdistribusi secara bersama-sama. Hanya sebagian saja yang dapat berperan di berbagai instrumen perubahan bangsa ini.
Odi mengkritik masih adanya dominasi elite dalam instrumen-instrumen strategis. Oleh karena itu, selaku leader di sebuah organisasi nasional pemuda, anak muda kelahiran Jakarta ini, mendesak para elite yang telah mapan untuk memberikan ruang ekspresi bagi kaum muda yang lebih luas dan merata.