Bermodal Saweran,Aset Kian Berkembang
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Padang Pariaman membuat terobosan signifikan dalam pengembangan organisasi. Meski masih berstatus cabang persiapan, PC yang dipimpin Afriensi Sikumbang ini sudah memiliki Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau lembaga keuangan mikro syariah.
M Khusen Yusuf, Padang Pariaman
Sekilas, sekretariat PC PMII Padang Pariaman terlihat tidak terlalu mencolok. Berada sekitar 50 meter dari pasar tradisional Lubuk Alung, pusat aktivitas kader PMII tidak berbeda dengan deretan rumah dan toko di sepanjang jalan. Tidak terlihat ada papan nama sekretariat PC PMII di sana. Hanya ada satu dua bendera sebagai penanda keberadaan aktivis pergerakan. Yang menonjol justru papan nama BMT el-Muawanah, BMT yang sengaja didirikan oleh Ketua Umum PC PMII Padang Pariaman Afriendi Sikumbang dan sejumlah kader PC PMII Kota Padang. ”Kita baru pindahan, Mas. Hanya ada papan nama lama. Belum sempat bikin papan nama baru,” kata Afriendi kepada CyberPMII pada akhir pekan lalu (16/5/2010).
Menurut Afriendi, dirinya sengaja memindahkan sekretariat PC PMII Padang Pariaman ke lokasi yang berhimpitan dengan pasar tradisional Lubuk Alung (masyarakat sekitar menyebutnya ‘pasar nagari’) agar lebih dekat dengan pedagang pasar yang menjadi klien BMT el-Muawanah. ”Mayoritas nasabah kita memang pedagang Pasar Nagari Lubuk Alung,” ujarnya.
Afriendi lantas bercerita awal mula pendirian BMT el-Muawanah. Dikatakan, BMT tersebut sebenarnya bukan yang pertama kali dia gagas bersama kader-kader PMII di Sumatera Barat. Mulanya ia mendirikan BMT di Kota Padang. Bermodal semangat dan sedikit pengetahuan tentang system keuangan syariah, ia bersama pengurus PMII Kota Padang lainnya mendirikan BMT bernama Syirkah Muawanah. Lokasinya juga berdekatan dengan Pasar Alai Padang. “Sebenarnya aga jauh dari back ground jurusan saya. Saya lulusa Fakultas Syariah-Hukum Keluarga IAIN Imam Bonjol. Tapi saya sering ikut seminar tentang keuangan syariah. Dengan bekal sedikit ilmu itu, saya coba mendirikan BMT,” tandas pria yang kini masih Kuliah di Program Studi Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Andalas Padang ini.
Pada awal 2009, dengan modal awal Rp 20 jutaan, BMT Syirkah Muawanah beroperasi . Modal awal itu adalah hasil patungan 20 kader PC PMII Kota Padang. ”Setiap orang mengiur Rp 1 juta. Kemudian kita mencoba me-lobby senior-senior PMII dan pengurus NU untuk ikut berinvestasi,” terang mantan Ketua I PC PMII Kota Padang ini.
Dengan ketekunan dan pengelolaan yang professional, BMT Syirkah Muawanah kini sudah memiliki asset Rp 300-an juta. Angka yang masih tergolong kecil, tapi cukup signifikan untuk sekelas BMT yang dikelola anak-anak muda. ”Alhamdulillah perkembangannya sangat bagus. Tahun ini, kami targetkan, BMT Syirkah Muawanah bisa meningkatkan asetnya sampai Rp 1 miliar. Insya Allah tercapai,” tegas Efriandi.
Bagaimana dengan BMT el-Muawanah Padang Pariaman? BMT yang lebih muda ini, masih mengelola asset sekitar Rp 100 juta-an. Jumlah asset sekecil itu, kata Efriendi, belum berdampak signifikan terhadap keuangan organisasi. ”Dampaknya belum terasa. Mungkin hanya cukup untuk operasional bulanan organisasi. Kalaunya asetnya sudah mencapai Rp 1 miliar, baru bisa bantu-bantu kegiatan PMII,” ujar pria yang menjabat sebagai Direktur Utama BMT el-Muawanah ini.
Profesionalisme menjadi kata kunci untuk mengembangkan BMT Syirkah Muawanah dan el-Muawanah. Dalam memilih nasabah, ia menerapkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dan transparansi, meski tidak mempersulit siapapun yang berniat memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari dua BMT tersebut. ”Tidak ada agunan. Yang penting usahanya jelas, tekun, punya spiritualitas tinggi, dan tidak berbohong, kita kasih pembiayaan. Alhamdulillah sejauh ini sangat lancar. Memang ada yang macet, tapi prosentasenya sedikit,” imbuhnya.
Profesionalisme juga diterapkanya dalam merekrut kader yang terlibat dalam pengelolaan BMT. Menurut Efriandi, semua kader yang terlibat dalam pengelolaan tersebut diberi penghargaan, reward, yang seimbang dengan tugasnya. ”Ya model penggajian professional. Tapi, tetap tidak mengabaikan aspek pengabdian pada organisasi. Prinsipnya, ada keseimbangan lah. Bagaimanapun, kita di sini juga ingin mengembangkan PMII di Padang Pariaman khususnya, dan Sumatera Barat,” kata dia.
Lebih lanjut dikatakan, BMT adalah salah satu bentuk paling kongkrit dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Jika pengelolaannya bagus, gerakan PMII tidak hanya sebatas wacana, tapi ada langkah nyata yang lebih bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar. ”PMII-nya bisa dinamis, organisasinya jalan, dan masyarakat juga ikut merasakan,” ucap Afriendi.
Afriendi memiliki obsesi besar untuk ikut terlibat dalam menggairahkan kembali aktivitas PMII di Sumatera Barat. Sebab, provinsi yang banyak melahirkan tokoh nasional tersebut dulunya adalah salah satu basis PMII di kawasan Sumatera. ”Dulu kita ada 12 cabang PMII di Sumatera Barat. Dan sebagian besar aktif. Sahabat-sahabat di sini terobsesi untuk menghidupkan kembali ghiroh pergerakan di sini,” pungkasnya. (*)