hadapi mea, jakarta harus berbenah

JAKARTA – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia berpendapat Jakarta harus mulai berbenah. Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 menjadi alasan kuat kenapa Jakarta harus berbenah.Demikian kesimpulan KKS (Kajian Kosmologi Strategis) yang diselenggarakan PKC PMII DKI Jakarta di gedung PBNU pada Selasa (30/12).

 KKS kali ini, dengan tema “Refleksi Akhir Tahun: Persoalan Jakarta dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015”, membahas persoalan-persoalan Jakarta selama tahun 2014. Evaluasi di akhir tahun akan dapat direalisaikan untuk membangun Jakarta ke depan.

“Refeksi persoalan Jakarta selama satu tahun (2014) sangat penting untuk mendiagnosa, mencari jalan keluar dan memberikan progres pembangunan Jakarta tahun berikutnya, apalagi tahun 2015 Jakarta akan menjadi kota ASEAN. Oleh karena itu, Jakarta harus berbenah dan mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015,” kata Mulyadin Ketua PKC PMII DKI Jakarta.

 Hadir sebagai narasumber Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta, Kepala Bidang Pengembangan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta dan Koordinator FITRA.

 Kepala Bakesbangpol DKI Jakarta, Fatahillah memaparkan persoalan-persoalan yang dihadapi Pemprov DKI Jakarta selama tahun 2014 serta terobosan-terobosan yang dilakukan menata Jakarta.

 “Memang banyak sekali persoalan di Jakarta, terutama masalah banjir dan kemacetan. Namun Pemprov DKI dibawah kepemimpinan Pak Jokowi dan sekarang Pak Ahok sudah banyak melakukan perubahan besar bagi kemajuan Jakarta. Seperti, program reformasi birokrasi, pelayanan publik terpadu, reformasi SDM (Sumber Daya Manusia) di lingkungan Pemprov DKI, penataan transportasi umum, pengendalian banjir, penyediaan perumahan rakyat dan Ruang Terbuka Hijau (RTH), perbaikan layanan kesehatan, pendidikan, budaya, dan sebagainya. Semua itu merupakan fokus kerja gubernur DKI yang tertuang dalam 9 Program Unggulan RPJMD tahun 2013-2017,” beber Fatahillah.

 Kemudian, Kabid Pengembangan Kesos Dinas Sosial DKI Jakarta, Drs. Tarmijo Darmanik, MM menyampaikan persoalan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) seperti gelandangan dan pengemis (gepeng) yang merajalela. Menurut Tarmijo ada sebanyak 2400 orang lebih PMKS yang ditampung oleh Dinsos di 27 panti sosial Jakarta, dan jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. Sehingga untuk menyelesaikan persoalan PMKS di Jakarta harus terjalin kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk meningkatkan kesejahteraan sosial di Jakarta.

 Selama ini Dinsos melakukan razia-razia PMKS di jalan, karena berpotensi kriminal dan mengganggu kenyamanan masyarakat di ruang publik. Faktanya 60 % dari mereka berasal dari daerah lain dan terkoordinir, seperti kasus Pak Walang.

 Sementara Koordinator FITRA, Ucok Sky Kadafi mengatakan mahasiswa harus memiliki keahlian, profesionalitas, menguasai bahasa asing, dan rajin belajar untuk menghadapi MEA 2015. Menurut Ucok, keuangan di Jakarta saat ini sangat ketat, bahkan APBD 2015 tidak ada alokasi untuk MEA. Semantara masyarakat butuh pelatihan-pelatihan yang harus disiapkan oleh Pemprov DKI Jakarta. (ego)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *