Tuhan, kau dera aku pada dasar kehinaanku
Berjuta tahun hina meminta, kesadaran adalah kesembuhan dari segala lara
Dan aku tahu tak ada sekat pada kemanusianku
Semua semau dan semampuku
 
Dua ratus juta mulut di antara keturunan bangsa tantrayana
Di antara sejarah kapitayan
Di antara sejarah peliknya pancamakara-ma-lima
Dikawal dalam penggalan han-tu-han
 
Ku pilih dari penggalan itu ke kanan
Hakikat manusia sebagai hamba, tanpa jabatan
Yang dibuat dan ditinggikan oleh makhluk
Tugas dan jabatannya adalah khalifah dengan penuh tunduk
 
Dua ratus juta telinga berpasang
Siapa boleh mengaku, kami adalah adya abdi bumi pertiwi
Pawang, penjaga, penahan
Kau berkahi pada masa keturunan kiayi
 
Soekarno boleh bicara
Budi Utomo boleh mengerang
Mahbub Junaidi boleh mendekar kata
Nusantara
Pendekar, pembela, penegak membalut kultur masih subur gemilang
 
Tak ada celah Eropa kembali merajang, si sipit bahkan hingga kaum kuncir kuning dan eks-uni soviet
bergumul berfusi raksasa Asia
Tamengku, adalah penjaga keseimbangan tanah dan air
Bintang sembilan dalam pola doa-doa para sunan
 
Tak boleh lupa lewat setengah abad itu
Hingga seabad bahkan beribu masa, jangan khianat! Jangan berpecah!
Tuhanku, hilangkan bayangan tumpahan dominan kuning pada seluruh tancapan bendera di tanah daratan surga-Mu
 
Di antara jalan hamba dan khalifah ada pelayan dan pimpinan
Keduanya satu, lebur. Satu-duanya tiada beda
Di antara jalur lurus Al Gafar, Al Malik, Al Qudus, As Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *